Vihara Buddhagaya Watugong: Simbol Pluralisme Warga Semarang



Semarang (3/12) - AKTIVITAS PERIBADATAN. Seorang wanita paruh baya nampak sedang beribadah di depan Pagoda Avolokitesvara, Pudak Payung, Semarang (3/12). Selain hari besar keagamaan, Pagoda ini biasanya ramai dikunjungi umat untuk beribadah ketika hari libur khususnya hari minggu. Semarasanta/Pingki Anggraeni

Semarang – Semarang yang terkenal dengan destinasi wisata religi yang beragam, mulai dari Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Gereja Blenduk, Klenteng Sam Poo Kong dan tak kalah menarik yaitu Vihara Buddhagaya Watugong.  Terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pudak Payung di depan markas Kodam IV Diponegoro, Vihara ini sangat mudah dijumpai karena letaknya yang strategis di pinggir jalan raya Semarang - Ungaran. Hanya membutuhkan waktu 30 menit dari pusat kota kalian akan sampai di kawasan seluas 2.5 hektar ini.  

Sebagai kota yang penduduknya yang berasal dari etnis yang beragam, Semarang kaya akan simbol-simbol pluralisme. Selain Warak Ngendog yang terkenal dengan perpaduan budaya Islam, Arab dan Cina, Vihara Buddhagaya Watugong juga memiliki simbol yang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Jika kalian berkunjung ke Vihara ini kalian akan melihat bagaimana  umat Islam, Nasrani dan juga Budha hidup berdampingan yang dibuktikan dengan adanya beduk dan lonceng yang mengapit Pagoda di Vihara ini. Fungsi dari kedua simbol agama ini tak lain adalah untuk memanggil umat untuk beribadah.

 Berdiri sejak 19 September 1955 dan pada tahun 2002 dilakukan renovasi secara layak atas usulan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan diresmikan pada November 2004 oleh Walikota Semarang saat itu Mardiyanto. Dinamakan Vihara Buddhagaya Watugong konon karena di kawasan Vihara ditemukan sebuah batu yang berbentuk seperti Gong. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, batu ini ditemukan oleh Ir. Juang Ling pada tahun 1955.

Saat pertama kali memasuki kawasan ini, kalian akan disambut oleh Gapura dengan ornamen-ornamen khas Budha seperti bunga teratai, ornamen burung merak yang masing- masing memiliki filosofi tersendiri. Disini terdapat dua bangunan utama untuk peribadatan umat Budha yaitu Vihara Dharmasala dan Pagoda Avalokitesvara. Pada masa sebelum Masehi burung merak digunakan sebagai pertanda bahwa pergantian musim akan tiba yag dibuktikan dengan mekarnya sayap dari merak, merak mulai menari dan juga berkokok. Sayap burung merak yang indah ketika mekar melambangkan umat Budha yang memegang prinsip selalu menyebarkan kebaikan, kebahagiaan dan kasih sayang.

Dua bangunan utama pada kawasan ini adalah Vihara Dharmmasala dan Pagoda Avalokitesvara. Gedung Dharmasala merupakan bangunan utama yang terdiri atas dua lantai. Lantai pertama atau bawah biasanya digunakan sebagai aula dan dibuka untuk umum, sedangkan lantai kedua digunakan untuk tempat beribadah. Uniknya di Vihara Dharmasala ini kalian akan menemukan pagar yang mengelilingi bangunan dengan ukiran relief cerita Paticca Samuppada, yaitu proses dimana menceritakan kehidupan manusia dari mulai lahir sampai meninggal dunia. Sebelum memasuki Vihara kalian akan disuguhkan dengan beberapa ritual khusus seperti ritual menginjak relief tiga hewan yang dianggap mengumbar nafsu dan keserakahan. Ketiga hewan tersebut adalah ayam, ular dan babi yang harus dihindari oleh umat Budha. Ritual ini mengandung makna tersendiri, yang pada intinya sebelum memasuki Vihara kita harus benar-benar bersih dan suci dari segala nafsu.

 
Semarang 2/12 / BERPOSE DI DEPAN PAGODA. Seorang wanita sedang berpose di depan Pagoda Avalokitesvara, Pudak Payung, Semarang (2/12). Selain menikmati keindahan bangunna Pagoda, pengunjung biasanya juga berfoto untuk mengabadikan moment.Semarasanta/Pingki Anggraeni

 Tempat peribadatan yang kedua dan merupakan bangunan utama yaitu Pagoda Avalokitesvara yang diapit oleh dua gazebo di kanan kirinya. Pagoda Avalokitesvara atau biasa Pagoda Mettakaruna memilik tinggi 45 meter dan dinobatkan sebagai Pagoda tertinggi di Indonesia oleh MURI pada tahun 2006. Awal mula dibangun yaitu sebagai perwujudan penghormatan kepada Dewi Kwan Im yang selalu menyebarkan welas asih (kasih sayang). Pagoda Avalokitesvara disusun oleh 7 shaf atau 7 lantai, memiliki filosofi bahwa manusia ditopang oleh 7 tulang, jika diamati bangunannya seperti model bangunan Thailand dan juga Tiongkok. Bangunan di dominasi oleh warna merah yang dibawa dari tradisi di Tiongkok  karena melambangkan kebahagiaan. 

Di kawasan Pagoda Avalokitesvara juga banyak terdapat patung-patung Budha seperti patung Budha tidur berwarna coklat dengan pakaian dan tubuh berwarna emas di sebelah kiri pagoda. Pohon Bodhi (Ficus Religiosa) yang ada di pelataran Pagoda Avalokitesvara ditanam oleh Bhante Naradha Mahathera pada tahun 1955, melambangkan Sidharta Gautama ketika pertama kali mendapatkan pencerahan. 

Semarang 2/12 - Sekelompok remaja sedang mengunjungi Pagoda Avalokitesvara, Pudak Payung, Semarang (2/12). Vihara Buddhagaya Watugong menjadi salah satu objek wisata favorit Kota Semarang yang sangat rami dikunjungi ketika hari libur.Semarasanta/Pingki Anggraeni

Selain sebagai tempat peribadatan umat Budha, Vihara pertama dan tertua di Indonesia ini menjadi objek wisata religi di Semarang. Pemerintah Kota Semarang pada tahun 2004 dalam Program Semarang Selaras mengusulkan Vihara Buddhagaya Watugong menjadi ikon wisata religi mewakili umat Budha yang ada di Semarang. 

Kasiri, Pengelola Yayasan Watugong berharap dengan dijadikannya tempat wisata, Vihara Buddhagaya Watugong kedepannya bisa masuk ke semua lapisan masyarakat dan berharap lebih baik dan lebih maju dengan ajaran yang ada dalam agama Budha. 

“Kedepannya ya harus lebih baik lagi, maju, harus bisa masuk ke semua lapisan masyarakat, pada intinya dengan menjadikan wisata religi umat Budha, dapat bermanfaat bagi semua masyarakat dan pengunjung, sesuai dengan ajaran Budha yaitu welas asih, ”  tutur Kasiri 

Vihara Buddhagaya ini dibuka mulai pukul 07.00 hingga 21.00 wib. Selain karena keindahan dan keunikan bangunananya di objek wisata satu ini juga tidak mematok tarif masuk, pengunjung hanya dibebani biaya parkir seikhlasnya saja. Jadi jika kalian berencana untuk datang berkunjung ke kota Semarang, tentu akan sayang jika melewatkan tempat yang satu ini. (Pingki Setiyo A./Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes