Mengintip Kemegahan Masjid Tiban


Megahnya Masjid Tiban dari ketinggian. FOTO: Putri Wulandari/Semarasanta


Malang - Masjid yang berdiri sekitar tahun 90’ an ini disebut Masjid Tiban karena menurut kabar yang beredar, masjid megah ini dibangun tanpa sepengetahuan warga sekitar, dan menurut mitos masjid ini dibangun oleh 1000 jin dalam waktu hanya semalam saja. Tiban dalam Bahasa Jawa berarti tertimpa atau terjatuh, yang berarti masjid ini ada karena terjatuh dari langit. Hal ini dikuatkan dengan sempitnya jalan menuju masjid, sedangkan alat berat yang notabene sangat besar seperti molen dan lain sebagainya membutuhkan jalanan yang luas agar bisa melewatinya.
Tetapi hal itu tidak terbukti kebenarannya karena pembangunan masjid ini dilakukan oleh para santri, jemaah dan para donatur lainnya. Menurut para santri, mereka lah saksi bahwa masjid Tiban dibangun oleh manusia biasa dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan bangunan megah yang terdiri dari 11 lantai ini. 

"Memang masyarakat sekitar tidak mengetahui dengan jelas bagaimana kerja keras kami membangun masjid ini, karena memang pembangunannya bertahap, tidak langsung seketika jadi, butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk membangun Masjid dan podok pesantren yang kami tinggali saat ini," ujar Rohmat, salah satu anak santri. 

Megahnya Masjid Tiban dari ketinggian. FOTO: Putri Wulandari/Semarasanta

Bangunan Masjid Tiban ini sebenarnya merupakan sebuah pondok pesantren yang bernama Biharu Bahri'asali Fadlaailir Rahmah. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1978 oleh Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab disapa Romo Kiai Ahmad. 
 Tingkat 1 sampai dengan 4 akan menjumpai ruangan yang penuh dengan ukiran floral dan kaligraf tingkatan ini biasa digunakan sebagai tempat kegiatan para Santri, lantai 5 digunakan untuk ruang keluarga, biasa digunakan untuk solat idul fitri, idul adha, banyak furniture khas arab juga disajikan dilantai ini,  kemudian lantai 6, 7, 8 terdapat toko-toko kecil yang di kelola oleh para Santriwati. Berbagai macam makanan ringan dijual dengan harga murah, selain itu ada juga barang-barang yang dijual berupa pakaian Sarung, Sajadah, Jilbab, Tasbih dan aksesoris untuk dibawa pulang. Kemudian lantai 9, 10, 11 terdapat lorong menyerupai sebuah gua yang dihiasi ukiran-ukiran unik yang terkesan mistis  dan juga digunakan untuk bercocok tanam, serta kita bisa melihat bentuk bangunan dari atas lewat celah-celah jendela bergaya Timur Tengah.

Masjid ini juga dilengkapi dengan sarana lift yang dapat dengan bebas digunakan oleh pengunjung, tetapi saran saya, tidak perlu menggunakan lift, melewati tangga saja, karena tidak adanya penjaga disekitar lift dikhawatirkan apabila lift mengalami kerusakan mendadak tidak ada yang bisa menolong.  
Megahnya Masjid Tiban dari ketinggian. FOTO: Putri Wulandari/Semarasanta

“Saya sudah 3 kali mengunjungi masjid ini, dan tidak hentinya saya kagum akan kuasa Allah melalui para santri yang mampu membangun masjid sebesar ini”, ucap Nurdin salah satu pengunjung.

Memang saat memasuki kawasan Masjid Ajaib ini, kesan misterius langsung terasa, pengunjung yang datang sangat banyak, tetapi apabila sudah memasuki gerbang utama masjid, banyaknya orang yang terlihat di pintu masuk akan seketika terasa hilang satu-persatu karena memang mereka semua berpencar dan karena luas masjid yang mencapi 7 hektar. Kemudian perpaduan dari gaya Eropa, India, Arab dan Cina, menghiasi masjid dan ornamen bernuansa kaligrafi berlapis emas dengan bentuk, warna dan coraknya berbeda-beda antara satu ruangan dengan ruangan lainnya membuatnya terlihat sedikit menakutkan.
Lokasi Masjid Tiban Turen Malang ini berada di Jalan Wahid Hasyim, Gang Anggur, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Jaraknya sekitar 45 km dari pusat kota Malang. Memang sedikit jauh dari pusat kota karena letaknya berada di Kabupaten, tetapi hal ini tidak mengurangi semangat untuk mengintip indahnya rumah Allah yang sangat megah ini. Untuk memasuki Masjid tidak dipungut biaya, tetapi harus menggunakan pakaian yang sopan karena ini adalah kawasan masjid, bukan tempat wisata yang bebas, dan setiap tamu wajib lapor serta mengisi kas amal untuk perawatan masjid tersebut.(Putri.W/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes