Mengharap Kelahiran Kartunis Semarang

Jitet Koestana secara bergantian menggambar dalam acara International Tobacco Cartoon Exhibition 2017 (Khoirurroziqin C.H/Semarasanta)

Semarang – Seorang perempuan sedang merajut payung warna-warni. Payung sobek tersebut merupakan simbol dari keragaman masyarakat Indonesia yang mulai terpecah belah. Begitulah yang di sampaikan oleh Jitet  ketika di tanya tentang makna lukisan yang terpampang di depan rumahnya. 


Semarang, dulu pernah menjadi kota kartun nusantara. Bahkan sampai sekarang, belum ada kota lain di Indonesia yang mampu menggeser predikat ini dari Ibukota Jawa Tengah. Beberapa nama besar yang lahir dan mengharumkan kota Semarang lewat kartun diantaranya Loekis Haryadi, Suprianto, Hanung Kuncoro dan Jitet Koestana.

Jitet Koestana, kartunis yang lahir dan tinggal di Kota Lumpia ini sudah terjun di dunia menggambar sejak tahun 1990. Jitet sekarang sudah tidak lagi menggambar untuk media cetak. Ia sudah menjadi karikatur lepas dan sering dipanggil sebagai juri perlombaan kartun. Sepanjang perjalanan menggambar, pria kelahiran 14 Januari 1967  ini telah mengharumkan nama bangsa dimata dunia. Tercatat sudah ada 137 penghargaan yang ia raih baik dalam tingkat nasional maupun internasional. salah satunya penghargaan yang ia sabet pada International Turhan Selcuk Cartoon Competition yang di gelar di Turki pada tahun 2015.

Bagi Jitet, kartun bukan sekedar gambaran yang indah. Ada pesan-pesan yang ingin diutarakan kepada para penikmat kartun. Kartun memiliki opini-opini para kartunis yang biasanya berupa berisi pesan lawakan, ide-ide, atau satir. 

Nama besar Jitet Koestana tak membuat anak-anak muda semangat menjadi kartunis. Sayang, para penerus Jitet dapat dihitung dengan jari. Minat anak muda terhadap kartun sekarang sudah sangat rendah. Arif Sabilor, sebagai humas Semarang Kartun Klub ketika diwawancarai dalam acara Internasional Cartoon Contest 2017 yang di gelar di pusat perbelanjaan Sri Ratu, Semarang, mengatakan bahwa kartunis baru sangat di harapkan adanya. Selama ini mereka terhambat dalam kartunisasi. Sebagai anggota yang tergolong muda, Arif ingin anak muda sepertinya juga masyarakat lebih mengenal kartun. Terutama masyarakat Semarang yang menyandang predikat kota kartun Nusantara. 

Para kartunis Semarang yang sudah tergolong tua sekarang hanya mengandalkan menggambar di koran-koran. Sedangkan, koran-koran sudah mulai mempersempit spacenya bahkan sebagian ada yang menutup untuk bagian kartun. Alternatif lainya yang di lakukan oleh Semarang Kartun klub adalah mengadakan lomba-lomba. 

“Dengan adanya lomba, supaya orang yang mempunyai minat itu ingin berkartun,” ungkap Arif. 
Heru Garista, salah satu anggota SECAC (Semarang Cartoon Contest) senior ini, pun berharap sama. mereka ingin ada penerus dari para generasi muda dan masyarakat mencintai kartun lebih dari sebelumnya. 

“Kartun di Semarang harus tetap anak beranak. Senior-senior sudah mulai banyak kesibukan masing – masing, sehingga perlu regenerasi dari yang muda-muda. Kami mengharapkan adanya bibit baru, supaya keracunan dengan kartun.” ungkap Heru.

Semoga, para kartunis Semarang tetap bisa mempertahankan predikatnya sebagai kota kartun. Walaupun Space kartun di media cetak sudah mulai menipis, harapannya para kartunis masih bisa eksis di masyarakat dengan media yang lain seperti di festival-festival atau di penyedia komik berbasis daring. (Khoirurroziqin C.H/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes