Kuda Lumping, Kesenian Leluhur yang Harus Dilestarikan

Semarang - Indonesia terkenal dengan kekayaan budayanya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah memiliki pertunjukan seni rakyat yang ditampilkan dalam event maupun acara penting lainnya. Seperti di Jawa Tengah terdapat kesenian kuda lumping yang merupakan  seni tari dengan menggunakan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik yang digelung atau dikepang, sehingga pada masyarakat jawa sering disebut sebagai jaran kepang. Namun pada zaman sekarang lebih dikenal sebagai kuda lumping.

Salah seorang pemain kuda lumping yang sedang memberikan penghormatan pertanda pertunjukan akan segera dimulai  (Rahmi Hayati/Semarasanta)
Salah satu daerah yang masih melestarikan kesenian ini adalah masyarakat Ungaran tepatnya di Dusun Gedang Anak, Ungaran Jawa Tengah. Dibawah satu komunitas yang mereka sebut sebagai paguyuban bernama Wahyu Sekar Langen Budhoyo yang diketuai oleh Prayogi ini terdapat dua kesenian asli Jawa yang masih dipertahankan yaitu kesenian Kuda Lumping dan juga Tari Rampak Buto. Paguyuban ini mulai berdiri sejak tahun 1980, namun mulai berkembang dan dikelola oleh Prayogi sejak tahun 2003.

Pemain kuda lumping di paguyuban ini ada sebanyak 70 orang dan setiap minggunya diadakan latihan rutin setiap hari minggu sesudah shalat zuhur di rumah ketuanya bapak Prayogi. Prayogi menyampaikan bahwa penggemar seni ini masih banyak bahkan tidak hanya kalangan pria namun juga banyak dari kaum wanita yang ingin bergabung dalam kesenian ini. Para pemain kuda lumping dipaguyuban ini berasal dari anak-anak di dusun GedangAnak mulai dari yang masih SMP hingga ada juga yang kuliah. Mereka biasa tampil di resepsi pernikahan dan juga event yang diadakan diberbagai daerah hingga ke Salatiga dan lainnya.


Seorang pawang yang sedang menjalankan ritual sebelum memulai pertunjukan kuda lumping
 guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan (Rahmi Hayati/Semarasanta)

Hal yang selalu identik jika berbicara mengenai kuda lumping adalah wuru atau kesurupan. Biasanya saat pentas kuda lumping pemain akan mengalami kesurupan bahkan ada yang melakukan atraksi berbahaya seperti makan beling, makan genteng, ngupas kelapa menggunakan mulut dan sebagainya sesuai dengan permintaan ruh yang masuk dalam diri pemain tersebut. Namun kesurupan ini hanya terjadi pada saat pentas saja tidak setiap saat. 

“Kalau kesurupan itu ya nggak setiap saat, Cuma pas pentas saja. Karena kan emang kuda lumping ada mistisnya. Biasanya ada yang nggak bisa jalan atau apa, harus ada pawangnya. Kalo kesurupan pakenya bahasa isyarat, soalnya kalo pake bahasa lisan dia gabisa, harus pake bahasa isyarat karena dia nggak bisa ngucap.” Jelas Prayogi ketua paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo saat event pada (10/09).

Sebelum pentas biasanya ada ritual yang dilakukan oleh para pawang kuda lumping untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti mereka harus puasa dulu. Ritual ketika  akan pentas juga ada seperti membacakan doa kepada kuda-kuda yang akan digunakan juga memberikan semburan air kembang diseluruh wilayah atraksi kuda lumping tersebut.


Salah satu adegan sebelum pemain kuda lumping mengalami wuru atau kesurupan (Rahmi Hayati/Semarasanta)

Karena identik dengan kesurupan disetiap pertunjukan kuda lumping, hal ini menjadi daya tarik yang membuat banyak masyarakat yang ingin menonton pertunjukan tersebut. Namun tidak semua kesurupan itu benar terjadi tapi juga ada beberapa yang hanya disuguhkan untuk menarik penonton. Seperti yang disampaikan oleh Alvi, salah satu pemain kuda lumping yang bergabung dalam paguyuban tersebut. 

“Kalau kesurupan itu ada yang beneran ada juga yang nggak. Soalnya itu kan buat menarik perhatian pengunjung. Bedanya yang asli sama nggak itu bisa dilihat dari matanya. Kalo yang beneran kesurupan itu matanya merah dan nggak ngedip. Kalo yang pura-pura bisa ngedip.” Jelas Alvi.

Alvi merupakan salah satu pemain kuda lumping yang bergabung dalam paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo. Alvi mulai bergabung dalam paguyuban ini semenjak masih kelas dua SMP sampai sekarang ia kelas satu SMK. Alasan ia bergabung dalam paguyuban ini karena kecintaannya terhadap seni khususnya kesenian kuda lumping. Meskipun awalnya sempat merasa malu namun ia tetap berlatih dan sering tampil diberbagai event yang akhirnya membuat ia semakin mencintai kesenian tersebut.

“Pertamanya malu, masih kaku. Dilihat orang banyak itu masih banyak malu-malu gimana gitu. Trus lama-lama ya biasa aja, malah ingin dilihat orang banyak. Semakin banyak penonton itu kepercayaan dirinya semakin besar.” Tutur Alvi.

Tak hanya dari kalangan orang tua, jiwa cinta akan kesenian asli Jawa juga tertanam dalam diri anak muda di Ungaran yang tergabung dalam Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo ini. Alvi hanya salah satu contoh dari anak muda yang masih ingin melestarikan kesenian daerah ditenagh-tengah pesatnya perkembangan budaya barat di Indonesia. (Rahmi Hayati/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes