Berebut Nasi Jangkrik, Makanan Kesukaan Sunan Kudus



Sahlan Marzuuqi/Semarasanta
Kudus – Ada hal unik yang dilakukan warga Kudus setiap bula Asyura. Ribuan orang rela mengantri berdesakan hanya untuk mendapat sebungkus Nasi Jangkrik di Kompleks Masjid Menara Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mereka malakukannya sejak pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB. Biasanya sekitar jam 14.00 WIB nasi jangkrik yang berjumlah ribuan ini sudah habis dibagikan kepada masyarakat. Setiap orang yang mengantri hanya mendapatkan jatah satu bungkus Nasi Jangkrik, apabila ingin lebih dari satu maka harus rela mengantri kembali sesuai urutan.
Tradisi pembagian Nasi Jangkrik dilakukan pada setiap bulan Asyuro atau 10 Muharram. Tradisi ini merupakan salah satu rangkaian acara buka luwur yang setiap tahun rutin dilakukan. Warga mempercayai mendapatkan Nasi Jangkrik akan memberikan keberkahan bagi mereka.
“Setiap tahun pasti saya akan ikut antre mendapatkan Nasi Jangkrik kanjeng Sunan Kudus, hal ini supaya hidup saya dan keluarga saya diberi keberkahan kedepannya.” ucap Gatot salah seorang masyarakat yang ikut mengantri.
Keberkahan dari Nasi Jangkrik menurut masyarakat dapat bermacam-macam, misalnya memberikan rezeki kepada keluarga, kesembuhan terhadap yang sakit dan mengingatkan penerima kepada Allah SWT. Nasi Jangkrik merupakan makanan yang telah ada ratusan tahun lalu saat masa Sunan Kudus dan disebut-sebut sebagai makanan favorit beliau ketika masih hidup. Sunan Kudus yang merupakan salah satu walisongo di tanah Jawa memang terkenal memiliki kedekatan dengan masyarakat dan keramah tamahannya dalam menyebarkan agama Islam.
Lalu apa sih Nasi Jangkrik itu? Nasi Jangkrik tidak ada hubungannya sama sekali dengan hewan jangkrik, ini hanya istilah saja yang digunakan untuk menarik pengunjung. Bahan-bahan dari Nasi Jangkrik terdiri dari nasi putih dengan lauk daging kerbau atau kambing yang dimasak menggunakan bumbu pedas, manis gurih garang asem khas Kudus, yang kemudian akan dibungkus dengan daun jati dan diikat menggunakan anyaman bambu. Aroma dari daun jati akan menambah kenikmatan dari Nasi Jangkrik. Bahan makanan sendiri didapatkan dari sumbangan masyarakat yang dikumpulkan oleh pengelola Masjid Menara, baik berupa uang maupun barang. Ketika seluruhnya sudah terkumpul maka akan dibelikan segala kebutuhan Nasi Jangkrik sendiri seperti beras, puluhan ekor kambing dan Kerbau.
Image via sego-jangkrik-kudus-sego-jangkrik-sunan-kudus-sego-jangkrik-surabaya-001-7
Sedangkan tradisi dari buka luwur adalah mengganti luwur atau biasa disebut kain kelambu yang digunakan sebagai penutup makam Sunan Kudus. Luwur yang lama akan diganti dengan yang baru setiap setahun sekali berketepatan dengan hari Asyuro 10 Muharram. Sedangkan kain yang lama dan masih bagus akan dibagikan juga kepada masyarakat sekitar.
“Selain menjaga kebersihan dari kelambu makam Sunan Kudus, tradisi ini memang sudah seperti ritual sakral yang wajib dilakukan oleh pengurus makam Sunan Kudus setiap tahun,” tandas Fikri salah satu peziarah makam Sunan Kudus.

Sebelum kain kelambu diganti diadakan doa terlebih dahulu kepada Allah SWT dengan penuh rasa syukur telah diberi kesejahteraan pada tahun ini, dan mengharapkan kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera di Kota Kudus tercinta untuk satu tahun kedepan. Selain ucapan rasa syukur, tujuan dari pembagian Nasi Jangkrik kepada masyarakat adalah agar menumbuhkan rasa toleransi dan saling berbagi kepada sesama. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bisa makan daging setiap hari dan masih terdapat masyarakat yang kesusahan dan kelaparan. Untuk itu rasa toleransi, saling membantu dan berbagi sebenarnya telah lama diajarkan dahulu kala oleh beliau Sunan Kudus.
Sejarah dan filosofi Nasi Jangkrik inilah yang membuat masyarakat rela mengantri untuk mendapatkan nasi yang hanya bisa didapatkan sekali dalam setahun. Bagi kalian yang ingin mencoba Nasi Jangkrik khas kota Kudus. (Sahlan. M/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes