Alunan Lembut Musik Keroncong di Stasiun Tawang


Pingky Anggraeni/Semarasanta


Semarang - Keroncong merupakan salah satu musik yang berkembang di berbagai wilayah di Indonesia. Menurut sejarah, musik keroncong dibawa oleh para kaum Portugis yang datang ke Indonesia. Awalnya musik keroncong ini hanyalah musik yang dimainkan untuk hiburan semata, namun semakin kesini dimainkan terus-menerus dan menjadi musik sehari-hari yang kemudian menjadi musik rakyat. Persebaran musik keroncong melalui para pekerja atau budak yang di pekerjakan oleh kaum Portugis, mereka kemudian membawa pulang dan dikembangkan didaerah mereka masing-masing, seperti di Ambon, Solo, Jakarta dan juga Semarang.
Syarat alat musik yang harus ada yaitu disselo, ukulele dan juga biola, hal ini lah yang menjadi pakem dari musik keroncong dan juga menjadi ciri khasnya. Selain dari ketiga pakem tersebut ada juga alat musik tambahan lainnya sesuai daerah. Yang menjadi pembeda dengan yang lainnya yaitu irama yang pelan dan mendayu-dayu, hal ini mencerminkan sifat orang Jawa yang lemah lembut, karena memang musik keroncong lebih populer di daerah Jawa. 
Pingky Anggraeni/Semarasanta

Di Indonesia sekitar abad ke-19 lahir penyanyi-penyanyi keroncong terkenal seperti Mus Mulyadi, Waljinah, dan juga Soendari Soekotjo. Di abad ke-20 ini keberadaan musik keroncong tidak sepopuler abad ke-19, karena munculnya beberapa genre musik baru. Pesatnya perkembangan teknologi juga membuat musik keroncong semakin terbelakang, musik keroncong semakin tenggelam,  kebanyakan orang lebih senang menikmati budaya baru yang masuk ke Indonesia seperti musik pop khas barat. Regenerasinya pun mulai menyusut, dan semakin jarang.

Namun kalian akan menemukan dengan mudah pertunjukan musik keroncong ini ketika kalian sedang berada di Semarang atau sekedar mampir kota lumpia ini. Tepatnya di Stasiun Semarang Tawang, disana ada pertunjukan musik keroncong setiap hari Senin sampai Jumat, biasanya di mulai dari jam 7 sampai jam 10 malam . Grup musik keroncong yang menamakan dirinya Gunung Jati musik ini merupakan salah satu grup musik keroncong yang ada di Semarang dan menjadi mitra binaan PT. Kereta Api Indonesia.
 
Pingky Anggraeni/Semarasanta
 Mitra binaan disini maksudnya yaitu menjalin kerjasama dengan PT. Kereta Api Indonesia untuk menghibur para calon penumpang yang sedang menunggu keberangkatan kereta api. Timbal baliknya yaitu mendapatkan pendapatan dari hasil saweran para calon penumpang. Awal mula tampil di Stasiun Semarang Tawang yaitu ketika tampil di salah satu restoran yang dihadiri oleh salah satu pejabat PT. Kereta Api Indonesia, kemudian diminta untuk tampil. Namun tidak semata-mata tampil, ada kesepakatan-kesepakatan tertentu. Terhitung sudah 10 tahun keduanya menjadi mitra kerjasama.
Tidak hanya menghibur calon penumpang, grup musik yang beranggotakan lima orang ini juga memiliki tujuan lain, yaitu menjaga dan melestarikan musik kebudayaan yang sudah jarang dilirik, apalagi oleh anak muda.
“Selain menghibur kita juga ingin musik keroncong tetap eksis di Indonesia, kita memperkenalkan, khususnya buat anak muda yang kayanya kurang tertarik, padahal mereka seharusnya yang menjadi penerus,” ungkap Agung, pemain Bass. 

Pingky Anggraeni/Semarasanta

Untuk melestarikan musik keroncong, tentunya mereka memiliki cara tersendiri agar mampu diterima anak muda tidak hanya orang tua saja. Mereka berusaha agar anak-anak muda itu mau menerima musik keroncong dengan melakukan inovasi seperti membawakan berbagai genre musik mulai dari pop, dangdut, campursari, membawakan lagu-lagu yang booming, bahkan juga membawakan lagu-lagu luar negeri. 

Rupanya tidak hanya itu saja upaya untuk melestarikan keroncong, Gunung Jati musik juga memberi ruang bagi para penonton yang ingin bernyanyi atau istilahnya nyumbang lagu. Terbukti beberapa penonton tampil menyanyi di depan. Tidak hanya penumpang Indonesia saja, tak jarang juga penumpang warga dari negara asing yang ikut menyanyi, seperti dari India, Brazilia, Argentina dan lainnya. Untuk irama musik,biasanya mengikuti irama dari masing masing negara. 

Pingky Anggraeni/Semarasanta
Setiap malamnya di Stasiun Tawang ini selalu ramai oleh penonton, tidak hanya para penumpang, namun banyak juga penonton dari luar yang sengaja datang untuk menikmati irama lembut keroncong. Salah satumya yaitu Suryani, warga asal Ungaran ini sering datang ke Stasiun Semarang Tawang hanya untuk menonton pementasan musik keroncong.
“Sering kesini cuma buat nonton keroncong, kan udah jarang, yang pasti ada ya disini, seneng sih jadi inget jaman dulu, musiknya kan khas, enak di denger,” jelas Suryani.
Kedepannya mereka berharap musik keroncong mampu berdiri seperti genre musik lain yang populer, dan mereka juga berharap tumbuh para generasi penerus keroncong karena musik keroncong merupakan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan bersama. (Pingky.A/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes