Tari Rampak Buto: Bukan Tarian Dolanan Setan


Semarasanta/Audita Widya Pinasthika

Semarang – Sosoknya tinggi, dengan rambut gimbal dan sangat tebal, mukanya seram berwarna hijau. Sosoknya semakin menyeramkan karena gigi taringnya yang tajam dan tatapan matanya yang garang. Keberadaanya selalu menarik perhatian oleh kostum yang cerah ditambah suara langkahnya yang gremencing oleh ratusan kerincing lonceng yang diikat di kakinya. Itulah para penari Rampak Buto, sebuah kesenian nusantara yang tidak ternilai harganya.
Tari Rampak Buto memang biasanya tampil bersamaan dengan kesenian yang lebih poluper di masyarakat yakni Tari Kuda Lumping. Bedanya Tari Rampak Buto, tidak memerlukan ritual khusus layaknya Kuda Lumping. Kesenian ini hanya menunjukkan kekompakkan tarian dan formasi tarian buto walaupun tetap dijaga oleh seorang pawang. Masih banyak orang menganggap bahwa kesenian tradisional seperti Kuda Lumping dan Tari Rampak Buto merupakan dolanan setan. Kata-kata itu muncul dari sebutan orang-orang setelah menonton pertunjukkan Kuda Lumping dan Tari Rampak Buto dimana pemain-pemainnya mengalami kesurupan.
Tari Rampak Buto mungkin masih asing ditelinga masyarakat Semarang. Tari Rampak Buto adalah tarian yang biasanya melibatkan hingga 500 orang dimana tariannya bercerita tentang peperangan dan bisa dikolaborasi. Namun, biasanya tarian ini hanya dipentaskan dengan 6 sampai 10 orang saja. Cerita lainnya juga bisa diambil tentang peperangan para Pandhita yang berhasil menaklukkan buto-buto, ataupun kolaborasi Rama dan Shinta.
Menurut Prayogi, ketua Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo Semarang, Tarian Rampak Buto berasal dari daerah Magelang dan pertama kali dikembangkan di Semarang oleh Paguyuban tersebut di Ungaran. Tarian Rampak Buto merupakan kolaborasi dari empat tarian yaitu Tari Kunthulan, Jaranan, Gendowo dan Tarian Rakyat.
Tarian Rampak Buto juga terbilang masih baru di Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo ini, yaitu baru berjalan sekitar satu setengah tahun sejak akhir 2015 lalu. Tarian Rampak Buto, seperti dengan namanya memiliki kostum seperti Buto. Tari Rampak Buto merupakan satu kesenian babak dari Kuda Lumping, tarian dengan hentakan kaki dan gerakan lincah diiringi dengan suara kerincing dikaki yang bernada ini, seakan-akan menggarmbarkan geliat raksasa / buto. 
Menurut Bayu Adhi Prasetyo, salah satu penari Rampak Buto di Paguyuban, mengatakan bahwa untuk menari diperlukan kemampuan menari dan tenaga yang kuat karena banyaknya kostum terlebih lagi aksesoris yang tergolong berat seperti kerincing dan topeng.
“Sebenernya supranatural itu ada ya dikesenian, tapi tarian ini pure nari. Kalau kesurupan, kan kerincing dan loncengnya yang di kaki itu berat banget bisa sampe 2 kilo, karena menari lama, biasanya bisa sampai kram. Itu orang-orang biasanya ngira kesurupan.” tutur Bayu pada acara Pagelaran Budaya di Gedanganak Ungaran, Mingu (8/10).

Semarasanta/Audita Widya Pinasthika
Aksesoris yang dipakai meliputi sayak atau juga bisa disebut krembyah-krembyah yang dipakai di pinggang dan di dada, sampur atau selendang, kerincing yang ditalikan pada alas spon hati dan dipasang pada kaki memakai tali, merupakan salah satu bagian yang esensial karena kerincing itu merupakan bagian dari tarian. Aksesoris esensial lainnya yaitu topeng buto yang dipakai oleh para pemain dan kostum biasanya memakai bahan kain dibuat baju.
Seniman Gimbal Ungaran (SGU) merupakan salah satu wadah pecinta seni Tari Rampak Buto di bawah naungan Paguyuban Wahyu Sekar Langen Budhoyo. Prayogi mengatakan walaupun masih baru, minat anak-anak muda untuk belajar kesenian jawa meningkat setiap tahunnya.
“Ya kita buat paguyuban ini kan untuk mengurangi kenakalan remaja, dikasih wadah ini bisa lewat jalan positif dengan adanya itu bisa mengurangi mabuk-mabukan gitu mba. Saya ingin kesenian tradisional kaya rampak buto ini bisa diperhatikan oleh masyarakat agar Ungaran bisa jadi wisata kesenian budaya. Ingin buat masyarakat agar bisa menerima kesenian ini aja, soalnya masih banyak yang belum bisa menerima karena masih banyak sugesti dolanan setan.” tutur Prayogi.
Tarian ini bukanlah hanya soal hiburan, Tarian Rampak Buto merupakan satu kesenian yang meneriakkan kekompakkan dan keunikannya. Seniman Gimbal Ungaran juga menjadi satu wadah positif untuk turut melampiaskan seni dan sekaligus melestarikan kesenian tradisional. Tarian ini mewujudkan pendalaman pada pelaku seni dalam menggugah masyarakat untuk lebih mengapresiasi kesenian tradisional.  Sebuah langkah yang patut dihargai dan dicontoh agar kekayaan bangsa ini tidak usang atau dicuri oleh negara lain. (Audita.W/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes