Pecinan, Wujud Keunikan Budaya China di Semarang

Gerbang masuk Kampung Pecinan (Semarasanta/Rahmi Hayati)

Semarang - Telinga anda pasti tidak asing dengan istilah Chinatown yang merupakan pemukiman yang mayoritas masyarakatnya adalah etnis Tionghoa yang berasal dari keturunan China perantauan yang menetap disuatu negara. Selain sebagai pusat hunian warga Tioghoa, kawasan ini juga berfungsi sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Bahkan disetiap kota besar di berbagai belahan dunia seperti kota-kota di Amerika hingga Eropa juga memiliki Chinatown. Seperti namanya, Chinatown sudah pasti berisi masyarakat Cina serta kebudayaannya. Terkenal sebagai saudagar dari negeri timur, membuat keberadaan masyarakat China tersebar di berbagai belahan dunia. Terbukti Semarang salah satu kota besar di Indonesia juga memilikinya yang dikenal sebagai Pecinan.

Berbeda dari Chinatown di kota lainnya, Pecinan Semarang memiliki keunikan yang tidak dijumpai di tempat lain. Bagi kalian yang jarang memasuki kawasan Pecinan Semarang, kali ini saya akan ajak anda melihat kelokan budaya China yang berada di Jalan Gang Warung No. 50 Kauman, Kota Semarang.

Memasuki kawasan Pecinan kita akan dimanjakan dengan kentalnya budaya China mulai dari gedung perumahan hingga toko-toko milik warga yang didesain dengan miniatur dan pernak-pernik ala Chinese. Salah satu daya tarik yang paling diminati masyarakat Semarang ketika berkunjung ke Pecinan adalah adanya Waroeng Semawis, wisata kuliner yang menyediakan aneka jajanan, makanan dan minuman sepanjang jalan Gang Warung. Waroeng Semawis ini buka setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai dari pukul 18.00 hingga 23.00 malam.

Waroeng Semawis yang merupakan salah satu icon Pecinan yang selalu ramai
 dikunjungi ketika weekend (Semarasanta/Rahmi Hayati)

Tak hanya terkenal dengan wisata kulinernya, Kampung Pecinan juga identik dengan banyaknya klenteng yang menjadi tempat pemujaan dewa bagi masyarakat Tionghoa. Menurut Haryanto, sekretaris di salah satu Klenteng, mengungkapkan setidaknya ada sembilan Klenteng yang masih beroperasi di sekitar Kampung Pecinan. Salah satu dari Sembilan Klenteng itu adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok No. 62. Klenteng ini merupakan Klenteng terbesar di Semarang setelah Sam Poo Kong.

Klenteng Tay Kak Sie dibangun pada tahun 1770 dan selesai pembangunan pada tahun 1771. Nama Tay Kak Sie sendiri mengandung makna yang artinya Kuil Kesadaran Agung. Kuil ini merupakan tempat ibadah bagi masyarakat Tionghoa yang berada di sekitar Kampung Pecinan. Sesuai dengan fungsi aslinya sebagai tempat ibadah, Klenteng ini lebih difokuskan sebagai tempat pemujaan dewa bagi masyarakat China setempat. Namun, tingginya animo masyarakat untuk mengetahui mengenai budaya China menjadikan tempat ini ramai dikunjungi masyarakat Semarang sebagai tempat wisata religi dan budaya.


Klenteng Tay Kak Sie, salah satu dari sembilan Klenteng yang ada di Kampung Pecinan 
yang juga dijadikan sebagai tempat wisata (Semarasanta/Rahmi Hayati)

Meningkatnya keingintahuan masyarakat akan budaya China diterima dengan baik oleh masyarakat dan pengelola Klenteng karena dengan banyaknya masyarakat yang berdatangan, sekaligus bisa memperkenalkan budaya asli China kepada masyarakat luas. Seperti harapan yang di sampaikan oleh Haryanto, sekretaris Yayasan Klenteng Tay Kak Sie, bahwa mereka dengan senang hati mempersilahkan bagi masyarakat yang ingin berkunjung meski hanya untuk melihat-lihat ataupun mengambil foto. 

“Harapannya supaya masyarakat tahu bahwa Chinese culture itu adalah budaya dari bangsa Tionghoa untuk humanity, bukan hanya milik masyarakat Tionghoa saja tapi untuk semua.” jelas Haryanto.

Haryanto juga menambahkan bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen mereka di Klenteng ini sangat di perbolehkan asal sopan, tidak melanggar etika dan juga dilarang untuk menyentuh patung. Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, Klenteng ini di buka setiap hari mulai dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Pengunjung dapat memasuki Klenteng ini tanpa dipungut biaya apapun. Hanya bermodalkan bensin motor, Anda dapat menikmati keunikan budaya China dan tentunya mendapat pengetahuan lebih banyak mengenai budaya-budaya yang ada di dunia khususnya Chinese Culture.

Setiap tahunnya, di Klenteng Tay Kak Sie ini terdapat tiga acara besar dan menjadi angle dalam kebudayaan Tionghoa. Tiga acara besar itu adalah peringatan kedatangan patung Dewa Poo Seng Tay Tee. Arak-arakan Kongco merupakan upacara peringatan untuk Dewa Poo Seng Tay Tee atau sering disebut sebagai Dewa Pengobatan dalam masyarakat China. Upacara ini dilakukan setiap bulan kelima Imlek. Upacara terbesar kedua adalah peringatan kedatangan Laksamana Chengho, yaitu seorang pelayar yang berjasa besar dalam sejarah masyarakat China, yang diadakan setiap bulan keenam Imlek. Sedangkan Upacara Ulambana yang diadakan setiap bulan ketujuh Imlek. 

Perayaan di Klenteng Tay Kak Sie ini tidak hanya diikuti dan disaksikan oleh masyarakat Tionghoa saja namun juga dihadiri oleh warga kota pribumi yang ingin melihat keunikan perayaan tersebut. Hal ini menunjukkan toleransi dan sebagai wujud masyarakat yang multi etnis dan multicultural. Bagi kalian yang ingin berwisata ke Semarang, Kawasan Pecinan dan Klenteng Tay Kak Sie bisa menjadi referensi tujuan wisata yang lengkap. Tidak hanya wisata kuliner, tetapi juga bisa menikmati wisata religi dan budaya sekaligus. (Rahmi Hayati/Semarasanta)


Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes