Masjid Layur, Wujud Perpaduan Tiga Budaya Islam

Semarang (30/9) - MASJID LAYUR DARI DEPAN. Penampakan Masjid Layur atau yang biasa di sebut Masjid Menara dari depan, tampak menara putih yang menjadi simbol masjid ini. Semaransta/Pingki Anggraeni
Semarang - Masjid yang memiliki menara ini dibangun sekitar tahun 1800-an oleh para pedagang asal Yaman, sebagai sarana penyebaran Islam di Semarang. Masyarakat sekitar biasanya menyebutnya Masjid Menara, sebab masjid ini memiliki menara yang berdiri kokoh berwarna putih yang diatasnya terdapat corong pengeras suara adzan. Konon, dahulu digunakan oleh para saudagar untuk mengintai para pedagang yang masuk ke Semarang. 

Masjid Layur, sesuai dengan namanya berada di Jalan Layur, Kampung Melayu, Semarang Utara. Masjid Layur merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Kota Semarang. Walaupun sudah dimakan usia, namun masjid yang masih kokoh berdiri ini masih digunakan warga sekitar untuk beribadah. 

Semarang 30/9 - GERBANG MASJID LAYUR. Gerbang ini menjadi lorong dan pintu masuk menuju Masjid Layur, dari sini nampak Masjid Layur  dari samping. Semaransta/Pingki Anggraeni
Keunikan yang paling menonjol yaitu terletak pada arsitektur bangunannya. Masjid Layur ini memiliki gaya atau model yang berbeda dengan gaya bangunan masjid pada umumnya. Keindahan dan kemolekannya bisa kita jumpai pada dinding masjid yang terdapat ornamen-ornamen bermotif geometrik dan berwarna-warni. Gaya bangunannya merupakan perpaduan tiga budaya atau tiga etnis yang mendiami Kampung Melayu yaitu Melayu, Arab, dan Jawa.
Ciri khas utama dari bangunan Arab yaitu terdapat menara. Menara di Masjid Layur berdiri kokoh di depan pintu masjid yang menyerupai mercusuar yang juga sebagai salah satu simbol Kampung Melayu. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang atapnya menggunakan kubah, atap Masjid Layur ini terdiri dari tiga lapis. Atap tumpang susun ini merupakan model bangunan yang khas dari daerah Jawa.
Lantai bangunan ditinggikan dari permukaan tanah dan dapat dicapai dengan anak tangga. Ini merupakan ciri khas dari bangunan Melayu, dimana model bangunannya berbentuk panggung. Dahulu, lantai bangunan juga terbuat dari kayu, karena sering terkena air rob dan rapuh, maka lantai diganti dengan keramik. Meski telah berumur ratusan tahun, namun Masjid Layur secara menyeluruh masih asli seperti pertama kali dibuat. Hanya saja ada perubahan yang dibuat oleh pihak pengelola masjid seperti penggantian atap masjid menjadi genteng dan juga penggantian lantai masjid. Selain melakukan renovasi, pihak pengelola masjid juga menambah bangunan disekitar masjid.
“Kita juga menambahkan bangunan yang posisinya disisi kanan masjid yaitu ruang pengelola masjid, dan juga tempat sholat untuk wanita, karena memang disini hanya dikhususkan untuk pria,” jelas Ali, pengelola yayasan masjid, (30/9).

Semarang 30/9 - ARSITEKTUR MASJID LAYUR. Gaya bangunan masjid layur ini mengambil dari  tiga kebudayaan yaitu Jawa, Melayu, dan Arab. Masjid unik ini berada di Jl, Layur , Kampung Melayu, Semarang. Semaransta/Pingki Anggraeni
Selain karena model bangunannya yang unik, masjid ini juga memiliki berbagai tradisi yang menarik yang khas dan masih kental dengan tradisi di Timur Tengah, seperti tradisi meminum kopi arab ketika berbuka puasa dibulan ramadhan. Ada juga perayaan tahun baru Hijriyah pada bulan Sura yang dihadiri semua etnis Arab yang berada di Semarang.

            “Jadi setiap tahun baru Hijriyah atau orang jawa menyebutnya bulan Sura, etnis Arab yang tersebar di berbagai wilayah di Semarang, mereka biasanya berkumpul di masjid layur ini. Mereka berkumpul di masjid ini karena merasa inilah peninggalan nenek moyang mereka yang masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu masjid kebanggan di Semarang, dan sebagai ajang silaturrahmi keturunan  etnis Arab,” tambah Ali. 

Karena keunikan dan ciri khas bangunannya itulah Masjid Layur menjadi salah satu destinasi wisata religi di Semarang, dan juga bangunan ini kental dengan perpaduan tiga budayanya. Biasanya ramai dikunjungi oleh para wisatawan ketika sore hari menjelang maghrib, karena disini memang memiliki spot foto yang cocok untuk selfie, terlebih lagi ketika matahari terbenam. (PingkiSA/Semarasanta)

Share this:

 
Copyright © Semarasanta - Travel Blog. Designed by OddThemes & VineThemes